Mengolah Singkong Saat Dini Hari: Dapur Kecil Mama Farel yang Menghidupi Ekonomi Desa
MALANG — Ketika sebagian besar warga Desa Tulungrejo masih terlelap dalam dinginnya udara Kecamatan Donomulyo, alarm kehidupan Mama Farel sudah berdering. Tepat pukul 03.00 dini hari, ia telah sibuk bergelut di dapur, merawat ragi dan mengemas tape singkong yang siap diboyong ke pasar.
Bagi Mama Farel, saban potongan tape yang ia olah bukan sekadar penganan tradisional. Di sanalah tertumpu napas ekonomi keluarga dan cerita tentang pemberdayaan pangan lokal yang menjalar hingga ke sudut desa.
Menerjang Terik dan Mencabut Singkong Sendiri
Langkah Mama Farel tak pernah setengah-setengah. Dapur produksinya bertumpu pada hasil panen warga lokal. Tak jarang, jika stok langka, ia sendiri yang turun ke ladang, memegang cangkul, dan mencabut singkong dari dalam tanah.
Proses pengolahan dari singkong mentah hingga menjadi tape legit membutuhkan ketelitian tinggi. Tak boleh ada celah kesalahan agar cita rasanya tetap disukai pembeli.
"Kadang memang capek, apalagi harus bangun jam tiga pagi untuk ke pasar. Tapi kalau tidak dijalani, dari mana penghasilan untuk membantu keluarga? Jadi saya tetap semangat," tutur Mama Farel.
Siklus Tanpa Henti: Dari Pasar Kembali ke Ladang
Perjuangan Mama Farel tak lantas usai tatkala dagangannya ludes di pasar. Begitu gawai dan wadah lapaknya kosong, ia tak langsung pulang untuk melepas lelah. Di bawah terik matahari siang, ia kembali berkeliling desa mencari pasokan singkong berikutnya.
Siklus ini berulang saban hari: membeli singkong warga, mengolahnya menjadi tape, menjualnya ke pasar, lalu berburu bahan baku kembali.
"Pulang dari pasar biasanya bukan langsung istirahat. Saya harus mencari singkong lagi. Kalau ada warga yang punya singkong, saya beli untuk bahan produksi berikutnya," katanya. "Singkong ini saya dapat dari masyarakat sekitar. Kadang saya ikut mencabut sendiri, kemudian dicuci dan diolah sampai menjadi tape. Yang penting mau bekerja dan telaten."
Menghidupkan Rantai Ekonomi Desa
Dari dapur sederhana tersebut, berputar sebuah ekosistem ekonomi yang saling menghidupi. Petani singkong di Desa Tulungrejo mendapatkan pembeli pasti, sementara Mama Farel memperoleh bahan baku segar untuk menjaga asap dapurnya tetap mengepul.
Kisah Mama Farel menjadi bukti nyata bahwa keberanian merintis usaha tak selalu membutuhkan modal jumbo. Kejelian melihat potensi lokal, keterampilannya mengolah bahan mentah, serta ketekunan menjadi fondasi utamanya.
"Saya menjalani ini sedikit demi sedikit. Tidak harus punya usaha besar dulu. Dari singkong yang sederhana saja kalau kita mau mengolahnya, bisa menjadi tambahan penghasilan," paparnya.
Tangan Dingin Perempuan Desa
Aktivitas Mama Farel adalah potret nyata bagaimana perempuan desa memegang peran krusial dalam menyokong kesejahteraan keluarga sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga.
"Yang membuat saya terus semangat ya keluarga. Walaupun panas, capek, dan harus bangun dini hari, saya jalani saja. Namanya juga usaha," tutup Mama Farel mantap.
Dari balik manis dan legitnya sepotong tape di pasar Donomulyo, ada peluh dan perjuangan seorang ibu yang tak pernah berhenti bergerak demi masa depan keluarganya.
-cliploo.com
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0