Banyak UMKM Aktif di Medsos, Tapi Masih Ragu Jualan Online

Sep 8, 2026 - 10:40
 0
Banyak UMKM Aktif di Medsos, Tapi Masih Ragu Jualan Online

Jakarta — Media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, termasuk para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, memiliki akun media sosial ternyata belum selalu berarti pelaku usaha siap memanfaatkannya sebagai tempat berjualan.

Sebagian UMKM masih menghadapi berbagai kendala ketika ingin mulai berjualan secara digital. Mulai dari kesulitan membuat konten, kurang percaya diri tampil di depan kamera, hingga belum memahami cara memanfaatkan fitur penjualan dan live streaming.

Salah satu pelaku usaha yang mengalami hal tersebut adalah Cindy Margaretha, pemilik usaha keripik balado di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ia baru memulai bisnisnya pada awal 2025 dan sebelumnya lebih banyak mengandalkan WhatsApp untuk menerima pesanan dengan sistem pre-order.

Kini, Cindy mulai mencoba memperluas pemasaran melalui marketplace dan media sosial seperti TikTok.

Bukan Sekadar Punya Akun Media Sosial

Menurut Cindy, tantangan terbesar bukan hanya membuat akun jualan, tetapi bagaimana menciptakan konten yang mampu menarik perhatian calon pelanggan.

Pelaku usaha harus memikirkan ide video, membuat caption, hingga mencari cara agar kontennya bisa menjangkau lebih banyak orang.

Persoalan tersebut juga dirasakan sejumlah peserta pelatihan UMKM yang digelar di Rumah BUMN BRI. Dalam kegiatan tersebut, para pelaku usaha mendapatkan pembelajaran mengenai strategi berjualan online melalui TikTok.

Sebagian peserta sebenarnya sudah memiliki akun media sosial dan cukup aktif menggunakannya. Namun, akun tersebut masih sebatas digunakan untuk aktivitas pribadi dan belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan penjualan.

Belajar dari Hal Paling Dasar

Business Development Manager Shop Tokopedia Dea Cintya Oktavianti mengatakan banyak pelaku UMKM yang masih membutuhkan pemahaman dasar mengenai perdagangan digital.

Cara berjualan melalui TikTok, misalnya, memiliki karakter yang berbeda dibandingkan marketplace pada umumnya. Karena itu, peserta diperkenalkan terlebih dahulu dengan berbagai elemen penting dalam pemasaran digital.

Materi yang diberikan mencakup cara membuat nama produk, memanfaatkan fitur keranjang kuning, menyusun video pendek, hingga memahami hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan live streaming.

Saat siaran langsung berlangsung, penjual juga dituntut untuk aktif berkomunikasi dengan penonton. Live yang terlalu lama tanpa interaksi dapat membuat calon pembeli kehilangan ketertarikan.

Konten dan Live Jadi Tantangan Baru

Bagi sebagian UMKM, membuat konten secara rutin bukan perkara mudah. Mereka harus membagi waktu antara memproduksi barang, melayani pelanggan, mengurus operasional, dan membuat materi promosi.

Rasa tidak percaya diri ketika harus berbicara di depan kamera juga menjadi hambatan tersendiri.

Karena itu, pelatihan tidak hanya memberikan teori. Peserta juga langsung diarahkan untuk membuat toko online dan mencoba mempraktikkan pembuatan konten.

Ada peserta yang sudah memiliki toko dan hanya perlu menambahkan produk. Sementara lainnya harus memulai proses tersebut dari awal.

Menurut Dea, kebiasaan menjadi faktor penting agar UMKM dapat bertahan dalam pemasaran digital. Pelaku usaha perlu membangun rutinitas membuat video maupun melakukan live secara konsisten.

Momentum Bisa Dimanfaatkan untuk Mendongkrak Penjualan

Selain konsistensi, momentum tertentu juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perhatian calon pembeli.

Periode Ramadan menjadi salah satu contoh. Ketika aktivitas masyarakat di media sosial meningkat, pelaku UMKM dapat memanfaatkan berbagai program kampanye yang tersedia untuk memperkenalkan produknya.

Strategi tersebut membuat pelaku usaha tidak hanya menunggu konsumen menemukan produk, tetapi ikut aktif menciptakan peluang agar produknya muncul di hadapan calon pembeli.

UMKM Mulai Berani Mencoba Live

Pelatihan tersebut turut mendorong pelaku usaha untuk mencari jenis produk yang lebih mudah dipromosikan melalui live streaming.

Windy Maretnawati, pengusaha katering asal Depok, misalnya, melihat produk nasi boks cukup sulit dipasarkan melalui metode live karena karakter produknya. Karena itu, ia berencana memanfaatkan fitur tersebut untuk mempromosikan produk seperti jamu dan kue kering.

Sementara itu, Hanna Watirah, pemilik usaha kue kering di Cakung, Jakarta Timur, berharap pemasaran melalui media sosial dapat meningkatkan jumlah pesanannya.

Selama ini, ia biasanya menerima sekitar 10–20 toples kue kering setiap minggu. Menjelang Lebaran, pesanan bahkan dapat mencapai sekitar 50 toples.

Dengan mencoba live streaming dan promosi digital, Hanna berharap dapat menemukan pelanggan baru di luar lingkaran konsumennya selama ini.

Pendampingan Dibutuhkan Setelah Pelatihan

Koordinator Rumah BUMN BRI Jajang Rahmana mengatakan minat UMKM untuk mempelajari pemasaran digital terus terlihat dari jumlah peserta pelatihan.

Setiap sesi, baik online maupun offline, biasanya diikuti sekitar 25–30 peserta. Banyak pelaku usaha tertarik mempelajari TikTok karena melihat tren live shopping yang semakin ramai.

Program tersebut tidak berhenti pada pemberian materi. Setelah pelatihan, peserta diarahkan untuk mempraktikkan sendiri cara mengelola toko, memasukkan produk, membuat konten, hingga menjalankan aktivitas jualan online.

Pendampingan lanjutan juga diberikan agar pelaku UMKM tidak berhenti hanya pada tahap belajar.

Bagi UMKM, go digital bukan sekadar memiliki akun media sosial. Tantangan sebenarnya adalah mengubah kebiasaan scrolling menjadi aktivitas produktif, membangun keberanian untuk membuat konten, dan konsisten menggunakan platform digital sebagai saluran penjualan.

Jika dilakukan secara bertahap dan terus dipraktikkan, media sosial dapat berkembang dari sekadar tempat promosi menjadi salah satu kanal penting untuk mendatangkan pelanggan dan meningkatkan omzet usaha.

-cliploo.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0