AI Slop Justru Buka Banyak Pekerjaan Baru untuk Freelancer Kreatif

Sep 8, 2026 - 15:13
 0
AI Slop Justru Buka Banyak Pekerjaan Baru untuk Freelancer Kreatif

Jakarta — Kemunculan AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude ternyata tidak hanya mengancam pekerjaan di industri kreatif. Di sisi lain, teknologi tersebut justru menciptakan jenis pekerjaan baru bagi freelancer, terutama untuk memperbaiki hasil AI yang belum layak digunakan.

Fenomena ini muncul seiring meningkatnya penggunaan AI untuk membuat tulisan, gambar, video, hingga berbagai materi kreatif. Banyak perusahaan menggunakan AI sebagai langkah awal produksi, tetapi hasilnya masih membutuhkan sentuhan manusia agar terlihat lebih rapi, natural, dan sesuai kebutuhan.

Permintaan Jasa Perbaikan AI Meningkat

Data Freelancer.com menunjukkan jumlah lowongan freelance yang berkaitan dengan perbaikan hasil AI mengalami peningkatan signifikan.

Antara Agustus 2025 hingga Juni 2026, pekerjaan yang menggunakan istilah seperti “correct AI”, “AI hallucination”, dan “AI error” meningkat 87 persen secara global menjadi sekitar 10.760 lowongan.

Tren serupa juga terlihat di platform freelance lainnya. Upwork mencatat pekerjaan yang berkaitan dengan perbaikan output AI meningkat sekitar 70 persen secara tahunan.

Sementara itu, Fiverr menemukan pencarian dengan kata kunci “AI cleanup” melonjak hingga 20 kali lipat sepanjang 2023–2026.

Freelancer Diminta Memperbaiki Hasil AI

CEO Freelancer.com Matt Barrie mengatakan permintaan tersebut banyak datang dari perusahaan kecil dan pelaku usaha yang memanfaatkan AI untuk menghasilkan rancangan awal.

Masalah muncul ketika hasil yang dibuat AI masih memiliki banyak kekurangan. Pada tahap inilah tenaga manusia dibutuhkan untuk menyempurnakan output tersebut agar dapat benar-benar digunakan.

Menurut Barrie, campur tangan manusia masih diperlukan untuk membuat hasil AI menjadi lebih matang dan sesuai standar.

Pekerjaan tersebut kini muncul dalam berbagai bidang kreatif, mulai dari desain grafis, editing video, penulisan, hingga penyuntingan konten.

Mulai dari Memperbaiki Jari hingga Tulisan

Dalam pekerjaan visual, freelancer bisa diminta memperbaiki berbagai kejanggalan yang dihasilkan AI. Misalnya meningkatkan resolusi gambar atau video, mengurangi noise, hingga memperbaiki kesalahan anatomi seperti jari tambahan, kaki yang tidak sesuai, atau arah bayangan yang keliru.

Mereka juga harus memastikan materi yang digunakan tidak menimbulkan persoalan hak cipta.

Sementara dalam bidang penulisan, pekerjaan yang dilakukan tidak kalah kompleks. Freelancer perlu memperbaiki tata bahasa, menyusun ulang paragraf yang terasa janggal, membuat kalimat lebih efektif, sekaligus memberikan sentuhan emosional agar tulisan tidak terasa seperti dibuat mesin.

60 Persen Pekerjaan Kym Kini Berasal dari AI Cleanup

Perubahan tersebut turut dirasakan Kym Dunbar, penulis dan editor lepas asal Australia.

Menurut Kym, pekerjaan menulis blog dan konten website yang sebelumnya menjadi bagian besar dari aktivitasnya kini mulai berkurang. Sebagai gantinya, sekitar 60 persen beban kerjanya justru berasal dari aktivitas membersihkan dan memperbaiki konten hasil AI.

Ia mengaku pekerjaan tersebut tetap menarik karena membutuhkan kemampuan untuk menemukan dan memperbaiki berbagai kekurangan dalam output AI.

Namun, di balik peluang tersebut, Kym juga menyayangkan kecenderungan sebagian orang yang mulai menganggap AI sebagai sesuatu yang bisa menangani hampir seluruh proses kreatif.

Baginya, teknologi seharusnya tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti seluruh proses kreatif manusia.

Freelancer Mulai Khawatir AI Akan Mengambil Alih

Lonjakan pekerjaan AI cleanup memang memberikan peluang baru. Namun, para pekerja kreatif juga menyadari bahwa pekerjaan tersebut bisa bersifat sementara.

Semakin berkembangnya teknologi AI, kemampuan sistem dalam menghasilkan gambar, video, maupun tulisan diperkirakan akan terus meningkat. Jika kesalahan semakin sedikit, kebutuhan terhadap manusia untuk melakukan perbaikan juga berpotensi menurun.

Kekhawatiran itu dirasakan Lisa, desainer grafis lepas asal Spanyol. Sekitar 90 persen pekerjaannya saat ini berkaitan dengan memperbaiki hasil buatan AI.

Lisa memperkirakan dalam satu atau dua tahun ke depan, AI mungkin sudah mampu menghasilkan desain dengan kualitas yang setara dengan pekerjaannya.

Kondisi tersebut membuatnya memilih meninggalkan pekerjaan AI cleanup. Ia kini kembali menekuni aktivitas melukis menggunakan kanvas, cat air, serta media fisik lainnya.

Menurut Lisa, pekerjaan membersihkan hasil AI yang terasa tidak memiliki jiwa menjadi aktivitas yang melelahkan.

“Saya tidak tahu apakah saya cukup mampu untuk bertahan di dunia digital,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan paradoks perkembangan AI di industri kreatif. Di satu sisi AI mengurangi sebagian pekerjaan manusia, tetapi di sisi lain kesalahan yang dihasilkannya justru menciptakan pasar baru bagi freelancer. Pertanyaannya, peluang tersebut akan bertahan selama apa jika kemampuan AI terus berkembang?

-cliploo.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0